Teaser

Kaira mendengar kembali suara itu berulang-ulang di kepalanya—teriakkan seseorang yang sangat ia kenali. Menggema di kepala, tidak mau berhenti. Kedua matanya sudah terpejam erat. Tubuhnya meringkuk di dalam selimut, meremat seprai dengan kuat. Dia—benci—keadaannya.

Keringat dingin mengalir melalui tengkuk. Giginya bergemeletuk seolah memahan rasa sakit yang ditimbulkan. Semakin diingat, semakin kuat rematan tangannya.

“Gue engga mau ngeliat muka lo lagi!”

“Seharusnya emang kita berdua engga perlu ketemu, Ra. Seharusnya dulu gue engga nembak lo!”

Kaira semakin meremat seprai dengan kuat, kepalanya terasa berputar hingga kedua matanya terbuka sekejap. Netranya langsung mendapati langit kamarnya yang sangat familiar baginya. Deru nafasnya tersengal-sengal lalu ia kembali memejamkan kedua matanya.

Mimpi itu.

Kaira kembali memimpikan kenangan tersebut. Makin lama, kenangan itu menjadi sebuah rutinitas yang muncul ke dalam mimpinya setiap malam. Kedua tangannya mengepal erat, terasa lengket karena keringat yang mengumpul, dan juga derita yang dialaminya selama tujuh tahun belakangan ini.

Ia mengusap peluh dingin yang membasahi keningnya dan juga tengkuknya. Kedua matanya melirik kearah jam dinding sekilas yang menunjukkan pukul dua pagi. Lagi-lagi pukul dua pagi mimpi itu datang.

Lantas kedua kaki gadis tersebut turun dari atas ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi. Mengambil air di keran lalu membasuh wajahnya dengan tergesa. Nafasnya sedikit tersengal saat ia memandangnya pantulan dirinya di cermin.

Kaira menarik nafas panjang sebelum mengatakan, “Gue harus mulai konsultasi lagi.”